Ada seorang wanita nan lembut hatinya tertegun dan perlahan terkagum dengan sosok entah siapa yang setiap hari berkarya dengan merapikan sepatu dan sandal di depan surau yang sesak dan penuh itu. Mungkin tak seorang pun bahkan aku menyadarinya. Tetapi, wanita nan lembut hatinya merasa sedih ketika seseorang entah siapa pergi dan tidak ada lagi yang merapikan sepatu-sepatu dan sandal basah di depan serau itu.
Sang wanita di kemudian hari menemukan sosok lelaki entah siapa yang misterius itu yang ternyata adalah teman satu almamaternya di kampus. Semenjak itulah, wanita nan lembut hatinya bertanya-tanya, berazzam, dan memendam rasa simpatinya kepada lelaki itu.
Kini, keduanya berjalan pada jalan yang sama untuk mengikat tali suci, ikatan yang amat teramat kokohnya bernama penikahan.
Untuk seorang wanita nan lembut hatinya dan seorang lelaki yang santun pribadinya aku berdoa. Semoga Allah berikan jalan yang terbaik, yang mulia untuk menyatukan kedua insan yang demikian luhur pribadinya, demikian istiqomah untuk tidak mengotori hati satu sama lain.
Dari mereka aku melihat, belajar dan menyadari bahwa datangnya cinta yang tulus, suci, murni, dan kokoh tidak semata-mata dari padangan mata yang mudah tertipu dengan berbagai kecantikan dan ketampanan ragawi tetapi dari mata hati yang Allah beri bagi mereka yang memelihara cinta teragung dan tertinggi kepada Sang pencipta.