Ramadhan tahun ini sangat sangat berbeda dengan ramadhanku di tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, aku menghabiskan 3 pekan ramadhan di kampus, ditemani dengan keceriaan teman-teman Indonesia di sana seperti kakak-kakak Hafsah, forum pengajian PPI, teman-teman di ICT, dll. Puasa di kampus tak terasa berat karena kami sibuk dengan aktifitas kampus, menclok dari satu kelas ke kelas lain dengan berjalan kaki.

Sore menjelang biasanya aku dan teman-teman mulai pergi ke masjid, menunggu berbuka dengan mendengarkan pengajian dari para volunteer dan menyantap ta’jil khas Malaysia atau Arab setelah adzan maghrib. Malamnya, biasanya kalau aku tidak malas sibuk maka aku akan bertarawih di masjid atau common room mahallah Hafsa, atau kalau tidak ya tarawih sendiri. Sahur tiba hanya ditemani dengan sekotak susu kedelai dan roti tawar, simpel, praktis dan mengenyangkan. Namun untuk kehusyukan Ramadhan sepertinya sangat kurang sekali, hari-hari Ramadhan seperti berlalu begitu saja tanpa pertumbuhan rohani yang signifikan.

Lain di sana, lain di sini. Alhamdulillah, dipenghujung masa kuliahku selama 4 tahun ini, Allah memberiku kesempatan untuk pulang sejenak selama 5 bulan 2 minggu untuk melakukan Industrial Attachment, atau Kerja Praktek. Dan syukurku kian bertambah karena berarti tahun ini aku bisa menghabiskan Ramadhanku di rumah bersama keluarga, memaksimalkan quality time kepada Rabb yang mungkin selama 22 tahun ini tidak ku maksimalkan dengan baik. Mungkin di tahun-tahun yang lalu, perhatianku ketika Ramadhan fokus kepada kuliahku, dan sekarang aku bisa menikmati Ramadhan dari hari ke hari.

Aku memulai hari dengan sahur bersama Umi dan nenek di pekan pertama Ramadhan. Setelah solat subuh dengan umi, di waktu yang sangat sempit aku mandi dan siap berangkat ke Fresh Market pukul 5.10 pagi untuk mengejar bus yang berangkat pukul 5.30. Di sana, bus Kota Wisata sudah menunggu kami, lambat sedikit maka kami tidak akan mendapat tempat duduk selama perjalanan Cibubur-Jakarta yang 1.5 jam itu. Aku selalu turun di Halte Polda dan meneruskan perjalananku menggunakan bus Trans Jakarta. Sekitar pukul 8 aku sudah sampai di kantor, menjadi yang paling pagi. Sorenya aku melewati rute yang nyaris sama dan praktis aku dan umi berbuka di jalan, bersama supir, kernet dan penumpang lain yang menjalankan ibadah puasa. Sesampainya di rumah, kami berbuka seadanya, mandi dan mengejar tarawih di lingkungan rumah. Benar-benar hari-hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan.

Pekan ke dua, haruku bertambah ketika aku berkesempatan untuk pulang awal dan melakikan solat tarawih berjamaah di Masjid Darussalam Kota Wisata, bersama para jamaah dari segala penjuru yang menggunakan berbagai kendaraan, mobil-mobil mewah berjejeran, motor terparkir rapi, ada yang berjalan kaki berkelompok-kelompok, sungguh hidup suasanan malam-malam Ramadhan di sini. Belum lagi ketika merasakan berbuka bersama penduduk kampung dan anak-anak yang polos sembari terdengar suara koordinator ta’jil yang selalu mengingatkan pengunjung masjid untuk mendatangi masjid bukan karena ta’jilnya, makanannya tetapi karena kecintaan kita kepada masjid.

Kesempatan Ramadhan ini aku manfaatkan untuk mentraining diriku supaya disiplin bangun pagi sebelum subuh, solat tepat waktu, menata target tilawah harian, mengusahakan untuk menulis yang bermanfaat. Aku merasa sangat besyukur karena Allah masih mengijinkan aku untuk membuka mataku, bertemu dengan Ramadhan yang mulia dan memperbaiki diriku.

Aku ingin menjadikan Ramadhan ini sebagai batu loMpatanku untuk mempersiapkan masa depanku, setelah aku menyelesaikan IA ku, juga setelah aku lulus kuliah nanti. Juga sebagai persiapan ketika aku nanti serumah dengan suamiku yang pastinya akan banyak tantangan dan kejutan. Selain itu, aku ingin, seandainya aku tidak bisa bertemu Ramadhan lagi, menjadikan Ramadhan tahun ini sebagai Ramadhan terbaik sebelum aku bertemu Rabbku untuk mempertanggungjawabkan umur, kesempatan, kekuatan, dan kesehatanku.

Aku sungguh tidak tahu akan berada di manakah aku tahun depan? atau apa yang ku lakukan setelah aku lulus nanti? apakah aku bisa Ramadhan di rumah lagi seperti tahun ini? akan jadi apa kira-kira setelah aku lulus? di sebuah perhentian ini, ku serahkan semuanya pada Allah yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hidupku….

10 Ramadhan 1432 H