Hari ini saya kembali ke Kuala Lumpur untuk melanjutkan kuliah saya di IIUM. Pukul 11.30 siang waktu setempat, saya sampai di terminal LCCT. Ada yang tidak biasa di anjungan imigrasi. Terlihat beberapa petugas kesehatan yang mengenakan masker meminta form kesehatan yang kami isi sebelum mendarat di LCCT. Form itu berisi beberapa pertanyaan, apakah kita terjangkit beberapa ciri-ciri terjangkitnya flu babi seperti demam, mual, batuk dan pusing. Semuanya saya lingkari NO.
Sekitar pukul 4 sore, saya sampai di Office Mahallah Hafsa untuk check in kamar. Di sana saya juga diberi formulir yang sama, namun berwarna kuning dan harus menuliskan tempat yang masuk dalam daftar penyebaran flu tersebut. Kebetulan, dua pekan yang lalu saya melawat ke United Kingdom, karenanya Office Mahallah meminta saya mengecek kesehatan di IIUM Health Centre dan mengenakan masker mulut.
Rupanya di sana sudah disediakan desk point untuk pengecekan tersebut. Setelah ditanya berapa lama saya melawat ke UK dan seterusnya, petugas memasukkan alat pengecek suhu ke dalam telinga dan diketahui saya terserang demam (salah satu ciri terjangkitnya H1N1). Bersama satu kawan lain, saya diantar ambulan IIUM ke Selayang Hospital untuk pengecekan lebih lanjut.
Setelah menunggu beberapa saat lamanya saya dan kawan saya ditanyai lebih lanjut dan dilakukan pengecekan suhu ulang. Suhu tubuh saya 37.2 C dan Alhamdulillah dokter memutuskan untuk tidak perlu dilakukan pengambilan sampel ludah. Namun, kawan saya karena keadaan yang lebih parah, pilek, suhu 38 C, radang tenggorokan, dan lemas harus melalui tes tersebut.
Sementara saya dibolehkan kembali ke kampus, kawan saya masih tertinggal untuk pengambilan sampel dahak. Saya sendiri harus membuat report di Health Centre IIUM dan kembali ke asrama. Alhamdulillah sekarang sudah di asrama kampus walau tidak boleh sekamar dengan siapapun.
Untuk kawan saya tadi, setelah diambil sampel dahak harus menunggu dua hari untuk mengetahui bahwa dirinya positif atau negative H1N1. Selama dua hari tersebut, yang bersangkutan akan dikarantina untuk sementara. Mungkin karena kawan saya yang satu lagi harus tes dahak, saya harus dikarantina juga di dalam kamar. Sudah dua kali saya ditelepon Klinik kampus agar tidak sekamar dengan siapapun.
Saya sendiri walau tidak perlu diuji air ludahnya, harus tetap menggunakan masker untuk berjaga-jaga. Dalam masa 7 hari, apabila terjadi gejala terjangkit flu babi, maka saya harus pergi ke rumah sakit Selayang untuk pengecekan kembali. Pesan dari saya, jaga kebersihan tangan dan gunakan masker yang disediakan cuma-cuma di bandara dan asrama.
Yah, semoga saja mahasiswa yang kembali ke Malaysia untuk menuntut ilmu, tidak membawa oleh-oleh flu babi yang meresahkan itu.
ana.. kamu kok enggak mampir jogja??
By: ranystarry on August 6, 2009
at 10:28 am