Empat tahun belajar apa?

Kalau ada yang bertanya, 4 tahun di Malaysia dapat apa An? Itu belibet jawabnya ya. Untuk mewakli jawaban-jawabanku yang sliwar-sliwer ga jelas, ditanya yang ini jawabnya itu, ditanya yang lain jawabnya lain, aku pengen berbagi tentang apa-apa yang aku dapat dan tidak aku dapat di Malaysia (IIUM-red).

Mengapa S1 di Malaysia? Apa ga lebih bagus di ITB atau UGM An? Untuk bagus atau tidaknya ICT di sini, mungkin lebih bagus di Indonesia memang. Secara praktek dan keilmuan, menurutku, Indonesia masih lebih bagus. Dalam arti, setiap mahasiswa punya kemampuan eksplorasi ke bidang yang tidak diajarkan di kampus, menjadi spesialis di bidangnya, dll. Banyak teman-teman seangkatan SMA yang pada akhirnya nek menurutku, lebih skillful dari pada aku yang kuliah di sini.

Kok bisa gitu? alasannya ada beberapa, pertama sistem pendidikan di Malaysia cenderung text-book oriented, apa yang diajarin sama dosen di kelas, itulah yang akan keluar. Mahasiswa di sini juga cenderung tidak mau mengeksplore teknologi-teknologi baru dan mahir di bidangnya. Itu karena ya text-book oriented tadi, ga ada ujian, ya ga belajar, itu intinya. Padahal orang-orang yang berkarir di bidang ICT harus punya skill, apakah software engineering, programmer, web developer, network admin, dll. Ke dua, di sini semua sudah mudah. Lab terkoneksi Internet, wifi, semuanya serba mudah. Mahasiswa cenderung malas untuk mengutak-atik komputernya, bahkan pernah ketemu temen ICT yang ga pernah sekalipun format laptopnya karena takut rusak. Wehe…Dia lebih baik membayar orang untuk take care of her problem, dibandingkan dengan mencoba menyelesaikan masalahnya sendiri. Ini juga yang terlambat aku sadari (sedih…), jadi mulai skarang harus tau sukanya apa, mo ngapain ke depan, dll.

Namun, di lain pihak ada hal-hal yang kita ga bisa dapat kalau kuliah di Indonesia. Apa sajakah itu? Pertama kemahiran berbahasa Inggris. Sistem di IIUM mewajibkan calon mahasiswa untuk memiliki standar EILTS atau TOEFL tertentu, sangat strict kalau menurutku. Sebelum masuk kuliah, calon mahasiswa dites kemahiran Bahasa Inggrisnya dengan English Placement Test, mayoritas akan failed dan memenuhi kelas kelas upgrading Bahasa (CELPAD) yang nyeremin itu. Ada 6 level, waktu itu aku harus masuk level 5 dan les di sana sekitar 1,5 semester. Jadi diharapkan, waktu mahasiswa masuk kuliah, mereka bisa mengikuti pembelajaran di kelas dengan lancar. Akupun walau 4 tahun pakai bahasa Inggris sebenarnya ga mahir-mahir juga, tapi setidaknya ngobrol, ndengerin, nulis secara simple itu sudah biasa. Bukan hambatan lagi.

Ke dua, dosen-dosen yang berlatar-belakang berbeda. Dari tahun pertama sampai tahun ke empat, dosenku memang beragam dan banyak dosen dari luar negeri yang mengajar di sini. Ada yang dari Singapura, Indonesia, Yaman, Sudan, Bangladesh, Bosnia, dll. Jadi lingkungannya enak banget untuk sharing sama dosen, dan mayoritas dosen-dosen itu helpful dan sangat membantu. Di sini, dosen itu seperti teman yang bisa diajak sharing, ngobrol, nanya-nanya, gt. Bahkan saking deketnya sama dosen, ada lho mahasiswa yang minta tolong beliau jadi wali untuk beli mobil. Intinya, dari dosen-dosen yang latar belakangnya berbeda itu kita jadi belajar banyak, setiap dosen punya ceritanya sendiri, setiap dosen punya sesuatu yang kita bisa belajar banyak dari mereka.

Ke tiga, lingkungan internasional. Walaupun ga bisa dipungkiri, akhirnya aku bisa lancar bahasa Melayu karena mayoritas memang Malaysian, tapi teman-teman kita itu subhanallah dari mana-mana. Dari Thailand, Myanmar, eropa, middle east, dll. Dari mereka itu aku belajar banyak banget. Coba liat student dari Cina (muslim), mereka itu kebanyakan ke sini bahasa inggrisnya memang nol. Baca ai bi si aja ga bisa, tapi mereka kemauannya juara banget dan pede, mo bahasa Inggrisnya ga fasih, pokoknya mereka mau belajar. Juara ga tuh. Kita aja yang ngerti baca ai bi si masih malu, takut dikira sok dll. Students dari Bangladesh kebanyakan brilliant, ga tau deh makannya apa tapi mereka itu tekun kalau udah suka sama sesuatu, dan ga bosen-bosen (penyakitku suka bosen di tengah jalan).  Ada lagi student dari Thailand, daerahnya konflik terus ga habis-habis, tapi mereka kuliah maju terus. Dari mereka itu kita jadi bersyukur, bahasa Inggris untuk kita dah diajarkan dari SD (bahkan TK), ngomong juga ga separah negara-negara lain, trus juga basic pelajaran di SMA itu beneran bagus banget, negara juga aman dan tentrem, kurang apa coba? Kalau mereka yang udah susah gitu semangat belajarnya menggebu-gebu, masak kita kalah gitu aja, harusnya kita malah lebih semangat.

 

Di sini juga aku jadi terbuka wacananya tentang Islam yang bener-bener diverse, ga monoton, dan berusaha menerima. Kalau dulu sebelum ke sini, kayaknya paradigma orang kalau liat wanita pakai baju hitam dari ujung rambut sampai ujung kaki tu semacam exstrimis gitu. Trus kalau ada orang solat ga sedakep (meletakkan kedua tangan di dada), trus telunjuknya gerak naik-turun pas tahiyat tu jan aneh banget. Trus kalau di Indonesia lagi, solat tu semacam harus pakai mukena, nutup dari ujung rambut sampai ujung kaki, tapi harus pakai mukena. Begitu di sini rasanya semua stereotip itu pupus sudah. Susah hidup kalau memegang stereotip itu, banyak sisters yang solat pakai bajunya sehari hari (jeans, lengen panjang, jilbab pasmina lilit dan ga pakai kaos kaki), ada juga yang jubahnya melambai dari ujung rambut sampai ujung kaki (tapi kakinya ga pakai kaos kaki, bingung kan?), ada juga yang jilbabnya melambai tapi warnanya ngejreng kayak sisters dari Africa. Pernah satu sisters dari Afrika malah nanya, knapa kamu pakai mukena, kan bajumu sudah menutup aurat? Akunya bingung mo jawab apa, hehe. Pada akhirnya, aku sadar kalau Islam itu malah indah banget, mau gimanapun kita sujud tetap menyembah tuhan yang sama, sama-sama puasa, sama-sama baca Qur’an, indah banget kan?

Oya, walaupun IIUM tu universitas Islam, tapi ada juga dosen dan mahasiswa yang non-muslim. Aku punya dosen yang berbekas banget di hati, namanya Dr Yin, chinese, non muslim. Tapi baik banget, trus dia bilang IIUM tu indah banget. Gimana ga indah coba, arsitekturnya ala-ala medieval gitu, biru laut menghiasi genting klop sama warna tembok yang colat muda gitu. Belum sungai teh tarik yang membelah IIUM jadi dua, belum hewan-hewannya, ya burung, bangau, kadal, tokek, sampai jenis hewan yang nyeremin semacam anjing, monyet, dan biawak. Trus mahasiswanya ganteng-ganteng, cantik-cantik kayak bidadari turun dari syurga (beneran loh). Intinya ga ada kampus yang lebih indah dari IIUM menurut madam. Yang bikin membekas di hati itu, setiap murid di kelas dia, dia tu jan yakin haqqul yakin kalau mereka punya potensi. Dengan suara yang keibuan (padahal beliau ga menikah sampai nenek-nenek) beliau menasehati kami di kelas, terharu deh. Pokoknya intinya IIUM tu lain dari UIN atau UAD (kalau di Jogja).

Mungkin yang terakhir yang paling utama, IIUM itu kampus yang mengajarkan beberapa materi keislaman di kurikulumnya. Kalau ga lulus mata kuliah itu, ya ga bisa lulus dari kampus. Apa sajakah materinya? Bahasa Arab, wajib, mau ambil kuliah human science atau biologi, atau yang lain tetep harus ambil Bahasa Arab. Hasil dari mata kuliah ini sebetulnya sih ngga begitu signifikan, ya jelas lah kita Cuma belajar dari buku teks ko. Cuma istimewanya, pembelajarannya itu berdasarkan bahasa arab yang di Al Qur’an. Jadi materinya itu dari Al Qur’an, banyak ayat-ayat yang kita pelajari, macem-macem lah. Intinya belajar bahasa Arabnya bukan Cuma grammar, kosa kata, cara baca, dan cara bicara, tapi harapannya supaya lebih ngerti tentang Al Qur’an. Trus ada juga mentoring (halaqah), fardhu ain (untuk mereka yang ga familiar tentang solat, puasa, bacaan solat, hal-hal fardhu ain pokoknya). Nah, yang menurutku paling seru, mata kuliah dari kampus syariah (IRK). Misalnya Islamic Worldview, ethichs and fiqh, methods of da’wah, dll. Semua mata kuliah itu diajarkan oleh dosen IRK, satu kelas beragam dari kuliah apapun (soalnya wajib untuk semua), jadi kalau pas dosennya buka sesi diskusi bisa seru banget. Kan isinya student dari mana-mana, punya pemikiran yang berbeda, seru banget bisa berdiskusi kayak gitu, tukar pikiran, sharing pengetahuan, dll.

Pada akhirnya menurutku, berapa yang kita bisa belajar dari 4 tahun di IIUM itu tergantung individunya. Kalau aku sih, maunya mengambil sebanyak-banyaknya hikmah yang ada di sini. Ya kekurangan, kelebihannya, semuanya (ga mau rugi hehe). Walaupun kampus ini bertujuan untuk membangun pribadi muslim yang komplit, tapi tetap kitalah yang memutuskan akan menjadi seperti apakah kita. Apakah kita jadi muslim yang komplit atau ngga, muslim yang lurus atau bukan, itu sekali lagi pilihan sendiri. Rektor IIUM yang baru punya jargon,  “nurturing academition with soul”, akademisi yang ga cuma cerdas otaknya, tapi juga bijak jiwanya (mengenal tuhannya). Melawan jargon pendidikan di barat sana yang mengutamakan otak, tapi pada akhirnya peneliti banyak bunuh diri karena ga tau tujuan hidupnya (miris…). Nah sekarang, tinggal kita ini, para mahasiswa IIUM apakah mau bertransformasi jadi muslim yang komplit (khalifah a.k.a vicegerant of Allah), atau mau jadi orang yang biasa-biasa aja. Begitu keluar dari IIUM, hilanglah semua identitas keislamannya. Sekali lagi IIUM ini cuma fasilitas, manfaatkanlah sebaik-baiknya.

KICT Graduation Farewell Party!

Nice event, so tired being the photographer. I’m very satisfy with the editing result. I hope my friends are happy to see their photos :D

FYP Showcase Congratulatory Message

 

Congratulation too for Brother Hassan, he got the first prize, the best FYP for CS students. Although He was the last presenter, what he presented was valuable. Judges can see the important and the future use of his FYP. He did a great job.

And, Kak Dayah too (She got second place), She did so well in her FYP, also in her presentation. Thank you for helping me with my slide show, etc.

Congratulation for my friends (they got third place), Fauzi, Fafau and Pikri. They did great application, so proud of them. I think the most marketable application(?) coming from their group. Very interesting :D

And, for the rest of my FYP friends, we got so many things this semester. It is both joyful and challenging. What we did on our FYP, hopefully, can manage to achieve the aims of FYP.

From what I can see in today’s presentation, a good teamwork with a good supervision from supervisor may result on a very good FYP. Even, from judges perspective, CS students have higher marks than IT students. What CS students showed today may be just a beginning. I saw the judges were interested to do some collaborations and hiring some potential students. We are not lacking of knowledge, we are lacking on some collaboration, time and supervision. I’m sure the future CS students will find the way to do better and better next year, insyaAllah.

For the IS students, I saw their presentation in the morning. Congratulation to Sister Safura, she manage to get the 1st prize of best FYP, and also the brothers who made Halal Repository system, they got the best of the best FYP for IS students. They differ their product to other groups. Mostly IS students make some systems such as management system, repository, etc. But the judges want to see something different, something practical, valuable to the community, and marketable. The judges comments was so important for them, to improve more on ideas, what to make and what not.

Lastly, I want to give thanks to my CS department who gave all of us opportunity, goodies bags, and consolation prizes. Thank you Sister Ifa, she was so proud of all CS students, I want to send this to all my CS friends.

I’m sure, if we keep moving on what we love to do now, it is not possible for us to hope that the next world class scientists and enterpeneurs are coming from our Kulliyyah. It’ll need time, effort and opportunity too, so I hope Allah will helps us to achieve it. Amin…

Kulliyyah of ICT, FYP Showcase, 19/1/2012

a.u.k

 

My activities in pictures

Our last day of exam in these 3.5 years, KICT, IIUM

It’s International, It’s Islamic, It’s in Malaysia

So in the future when I say ‘College were the best days’…this is the place I’m referring to. The place I’m studying in….It’s International, it’s Islamic, it’s a University…and it’s in Malaysia…’IIUM’.

It may not be as posh as universities in a castle-medieval setting, but our beautiful campus stands proudly with its unique Islamic architecture, adorn with lush greenery, amidst the tropical rainforest and colossal mountains. Pretty epic in its own right.

 

(Photo by Ana, Caption taken from fb Mizah Kholil)

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 145 pengikut lainnya.